Sabtu, 07 Desember 2013



Hari, tanggal         : Rabu, 11 Desember 2013                                                 Tugas Kewirausahaan
Nama          : Afiyanti Fadilah
NPM            : 10214240149
 

RAHASIA SUKSES
BISNIS NABI MUHAMMAD Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam

Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman, penutup seluruh Nabi yang hadir untuk menyempurnakan agama Islam. Selain dikenal sebagai pemimpin umat dan penyebar agama Allah, beliau juga dikenal sebagai pebisnis yang sukses. Seluruh dimensi kehidupannya telah dikaji, termasuk perjalanan bisnis beliau sejak masa kanak-kanak hingga dewasa yang memengaruhi mental wirausahanya. Jejak bisnis Nabi Muhammad dimulai sejak diasuh oleh paman beliau yang bernama Abu Thalib. Jiwa wirausahanya mulai terbentuk dengan menjadi pengembala biri-biri orang-orang Quraisy. Dengan penghasilan yang tak seberapa, beliau belajar mandiri untuk meringankan beban yang ditanggung pamannya.
Pada usia 12 tahun, beliau ikut pamannya berdagang ke Negeri Syam (Syria atau Suriah). Ketika merintis kariernya tersebut, beliau memulai dengan berdagang kecil-kecilan di kota Mekkah. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar, lalu menjualnya kepada orang lain. Dalam melaksanakan bisnisnya, beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan segudang sifat mulia lainnya, sehingga penduduk Mekkah mengenal dan menjuluki beliau dengan sebutan Al-Amin (terpercaya). Dengan sifat-sifat mulia beliau, para pemilik modal di Mekkah semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan beliau. Salah seorang pemilik modal itu adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan dengan sistem mudharabah (bagi hasil). Dalam perjalanan dagangnya membawa barang-barang milik Khadijah, beliau ditemani oleh seorang budak laki-laki Khadijah yang bernama Maysarah. Ialah yang menjadi saksi kejujuran Muhammad dalam berdagang.
Lebih kurang selama 28 tahun Nabi Muhammad menjalankan usaha dagang ke Yaman, Syria, Bushra, Iraq, Yordania, dan kota-kota di jazirah Arab lainnya. Dengan demikian, Nabi Muhammad sudah menjadi pedagang internasional pada usia muda karena wilayah perdagangannya meliputi hampir seluruh jazirah Arab.
Karier bisnis Nabi Muhammad semakin kuat pada usia 25 tahun. Beliau semakin mapan dan melebarkan ‘sayap bisnisnya’ bersama sang istri, Khadijah yang telah dinikahinya. Beliau bertindak sebagai manajer dan mitra usaha istrinya. Beliau melakukan perjalanan ke pusat perdagangan di seluruh penjuru negeri dan negeri tetangga. Hingga pertengahan usia 30-an, beliau tercatat dalam sejarah melakukan tiga perjalanan dagang, yakni ke Yaman, Nejd, dan Najran.
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam ialah seorang pebisnis ulung. Beliau menganjurkan umat Islam untuk kaya. Beliau bersabda,“Allah itu cinta kepada seorang mukmin yang bekerja.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).
Berkenaan dengan sabda beliau di atas, Allah telah berfirman:
uqèdur Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 Ÿ@øŠ©9$# $U$t7Ï9 tPöq¨Z9$#ur $Y?$t7ß Ÿ@yèy_ur u$pk¨]9$# #Yqà±èS ÇÍÐÈ  
“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)
Seperti yang telah kita ketahui, Rasulullah menjalankan bisnisnya dengan berdagang. Berdagang adalah mata pencaharian terbaik dan melalui jalur perdagangan rezeki dengan mudah didapatkan. Sebagaimana yang telah beliau sabdakan,”Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya sembilan dari sepuluh pintu rezeki di dunia ini adalah melalui perdagangan.” (HR. Ahmad). Dalam hadits lainnya,“Sesungguhnya sebaik-baik mata pencaharian adalah berdagang.” (HR. Baihaqi).
Kesuksesan bisnis beliau didapatkan dari proses yang amat panjang dan beliau selalu menerapkan aturan-aturan yang sesuai dengan syari’at Islam. Berdagang dimulai dengan akad dan beliau selalu memperhatikan syarat akad jual dan beli, yaitu:
1.   Ijab dan qabul
2.  Suka sama suka
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 29:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 ....  
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu....” (QS. An-Nisa: 29)
3.  Dilakukan oleh orang yang dibenarkan untuk melakukannya
4.  Barang yang diperjualbelikan halal beserta kegunaannya (halal sifat dan barangnya)
5.  Yang menjalankan adalah pemilik atau wakilnya
Rasulullah bersabda:
ﺒَﻴْﻊٌ ﺇﻻّ ﻔِﻴْﻤَﺎ ﺘُﻤْﻟِﻚَ
“Tidak sah jual beli kecuali pada barang yang ia miliki.” (HR. Abu Daud)
6.  Barangnya dapat diserahterimakan setelah ijab
7.  Barangnya telah diketahui oleh kedua belah pihak
8.  Harga barang ditentukan dengan jelas ketika akad
Nabi Muhammad juga selalu menjaga hak-hak kelompok dalam bertransaksi, yaitu:
1.   Penjual tidak boleh bohong dan menipu, baik dengan cara ghisyah (menyembunyikan cacat) maupun tahfif (mengurangi timbangan).
ﻋَﻦْ ﺃﺑﻰ ﻫُﺮَﻴْﺮَﺓ ﺮَﺿِﻲَ ﺍﻟﻟﻪُ ﻋَﻨْﻪ ﻘﺎﻞَ : ﻨَﻬٰﻰ ﺮَﺴُﻭْﻞُ ﺍﻟﻟﻪِ ﺻَﻟﻰ ﺍﻟﻟﻪُ ﻋَﻟﻴْﻪِ ﻭَﺴَﻟﻡَ ﻋَﻦْ ﺒَﻴْﻊَ ﺍﻟﻐَﺮََﺍﺮَ
Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah melarang jual beli yang mengandung tipu daya”. (HR. Muslim)
2.  Pelanggan yang tidak mampu membayar kontan diberikan waktu untuk melunasinya. Bila ia betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggang, Nabi mengikhlaskannya.
3.  Penjual harus menjauhi sumpah yang berlebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen. Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat nanti Allah tidak akan berbicara dan tidak akan melihat kepada orang yang semasa hidupnya berdagang dengan menggunakan sumpah palsu”.
4.  Hanya dengan kesepakatan bersama, suatu transaksi barang akan sempurna.
5.  Orang yang membayar di muka untuk pembelian suatu barang, tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya.
6.  Dilarang melakukan najasy, yaitu penjual menyuruh orang lain untuk memuji barang dagangannya atau menawar dengan harga tinggi untuk menarik orang lain agar tertarik dan membeli, memanipulasi informasi, menyaingi tawaran orang lain sampai penawar tersebut membelinya atau meninggalkannya.
Nabi Muhammad juga menyuruh kita untuk menghindari segala macam bisnis yang telah Allah larang, di antaranya:
1.   Gharar, yaitu transaksi yang tidak jelas atau tidak transparan, sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak.
2.  Asusila, yaitu praktik usaha yang melanggar kesusilaan dan norma sosial.
3.  Maysir, yaitu segala bentuk spekulasi judi yang mematikan sektor riil dan tidak produktif.
4.  Riba, yaitu segala bentuk penyimpangan mata uang menjadi komoditas dengan mengenakan tambahan (bunga) pada transaksi kredit atau pinjaman dan pertukaran barang. Riba ini merupakan praktik pemerasan dan adanya penganiayaan (kezhaliman) dalam harta oleh pihak yang memiliki posisi tawar tinggi terhadap posisi tawar rendah.
Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 279:
bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? (#qçRsŒù'sù 5>öysÎ/ z`ÏiB «!$# ¾Ï&Î!qßuur ( bÎ)ur óOçFö6è? öNà6n=sù â¨râäâ öNà6Ï9ºuqøBr& Ÿw šcqßJÎ=ôàs? Ÿwur šcqßJn=ôàè? ÇËÐÒÈ  
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279)
5.  Ikhtikar, yaitu penimbunan dan monopoli barang dan jasa dengan tujuan permainan harga.
6.  Berbahaya, segala bentuk transaksi dan upaya yang membahayakan individu masyarakat, serta bertentangan dengan syari’at.
7.  Haram. Seorang pengusaha muslim dilarang melakukan kegiatan bisnis yang diharamkan oleh syari’at. Seorang pengusaha muslim dituntut untuk selalu melakukan usaha yang mendatangkan kebaikan untuk masyarakat. Bisnis makanan yang tidak halal dari jenis barang dan cara memperolehnya, minuman keras, narkoba, usaha prostitusi, dan diskotik tempat bercampurnya laki-laki dan perempuan disertai dengan lagu-lagu yang menghentak adalah kegiatan bisnis yang diharamkan Allah.
Allah mengingatkan dalam Al-Quran yang berkenaan dengan beberapa jenis usaha ini, yaitu:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9øF{$#ur Ó§ô_Í ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)
@è% žw ÈqtGó¡o ß]ŠÎ7sƒø:$# Ü=Íh©Ü9$#ur öqs9ur y7t7yfôãr& äouŽøYx. Ï]ŠÎ7sƒø:$# 4 (#qà)¨?$$sù ©!$# Í<'ré'¯»tƒ É=»t6ø9F{$# öNä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÉÈ  
“Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan’.” (QS. Al-Maidah: 100)
Apabila suatu bisnis dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan, maka bisnis tersebut akan bernilai ibadah. Berdasarkan kunci tersebutlah, bisnis Nabi Muhammad dapat melaju, bertambah, dan bernilai barokah. Orientasi bisnis yang terpenting adalah keberkahannya. Kehalalan harus dijaga, mulai dari barangnya sampai kepada cara melakukan transaksinya. Demikian pula dengan sikap dan perilaku kita dalam berbisnis. Dari Jabir, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati karena ia menjual dan membeli, dan ketika ia membuat keputusan.” (HR. Bukhari)
Berikut ini adalah perbandingan antara manajemen syari’ah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan menajemen non-syari’ah.
Manajemen
Syari’ah
Non-Syari’ah
Strategik
Visi, misi, dan tujuan terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia sebagai  rahmatan lil ‘alamin.
Visi, misi, dan tujuan organisasi ditetapkan berdasarkan pada kepentingan material belaka.
Keuangan
Jaminan halal bagi setiap sumber modal, transaksi, dan hasil.
Tidak ada jaminan halal bagi setiap sumber modal, transaksi, dan hasil.
Operasi
Jaminan halal bagi setiap input, proses, dan output, serta mengedepankan produktivitas dalam koridor syari’ah.
Tidak ada jaminan halal bagi setiap input, proses, dan output, serta mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat.
SDM
SDM profesional dan memiliki kepribadian mulia berdasarkan aturan Allah.
SDM hanya bertanggung jawab pada diri dan atasan.
Pemasaran
Pemasaran sesuai syari’at yang telah ditentukan, serta tidak menipu.
Pemasaran menghalalkan segala cara.